Selasa, 12 Juni 2012

MAKALAH TES DAN PENGUKURAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Pengertian Tes, Pengukuran, dan Evaluasi
Tes adalah suatu alat yang digunakan untuk memperoleh data. Suatu tes dapat dikatakan baik apabila memenuhi beberapa syarat, antara lain: 1) Valid yaitu mengukur apa yang harus diukur sesuai dengan tujuan (ketepatan dalam pengukuran), misalnya alat ukur untuk tinggi badan menggunakan stadiometer. Poin ini dapat diketahui dari tingkat validitasnya. Validitas adalah derajat ketepatan dalam pengukuran yang diwujudkan dalam bentuk angka, kisaran angkanya ± 1. Validitas sama dengan mengkorelasikan atau menghubungkan dua variabel (gejala yang terjadi di lapangan) atau lebih, contohnya panjang lengan dengan hasil lemparan. 2) Reliabel yaitu keajegan didalam pengukuran, diukur berulang-ulang mendapatkan hasil yang sama (ketetapan). Kisaran angkanya lebih besar, mendekati 1 yaitu 0,9 karena yang dikorelasikan sama. Maksudnya menghubungkan variabel yang sama, misal panjang lengan, jadi yang dikorelasikan adalah panjang lengan antara probandus 1,2,3 dan seterusnya. 3) Objektif yaitu memberikan penilaian apa adanya tidak dipengaruhi variabel manapun (jumlahnya lebih dari tiga). 4) Ada Pedoman Pelaksanaan artinya suatu tes tersebut harus mempunyai tujuan, alat-alat yang digunakan, pelaksanaan atau langkah-langkah yang akan dilalui dalam mengikuti suatu tes, serta mempunyai norma bagi umur dan tingkat tertentu dalam penilaian. 5) Ekonomis artinya alat-alat yang digunakan murah dan mudah didapat.
Pengukuran adalah proses menggunakan alat tersebut untuk mendapatkan data. Pengukuran dimaksudkan menentukan sifat, kemampuan, dan watak seseorang atau kelompok. Nilai atau hasil pengukuran itu sendiri tidak berarti, dan baru berarti setelah dinilai dan diinterpretasikan data yang ada. Evaluasi adalah pemberian pertimbangan, makna, penilaian setelah data itu diambil. Pengukuran menentukan status, sedangkan proses evaluasi menentukan arti tentang status itu.
(Referensi: Bambang Priyono Adi, M.Kes dalam Tes Pengukuran dan Evaluasi, 2008)


B.        Kebugaran Jasmani
Yang dimaksud dengan kebugaran jasmani adalah melakukan aktifitas fisik tanpa mengalami kelalahan yang berarti serta masih mampu melakukan aktivitas lainnya. Kebugaran jasmani ada dua yaitu yang berhubungan dengan kesehatan meliputi:
1.      Daya tahan paru jantung, yakni kemampuan paru jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama.
2.      Daya tahan otot adalah kemampuan otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu yang lama.
3.      Kelentukan adalah kemampuan persendian bergerak secara leluasa.
4.      komposisi tubuh adalah perbandingan berat tubuh berupa lemak dengan berat tanpa lemak ang dinyatakan dalam persentase lemak tubuh.
Yang berhungan dengan ketrampilan yaitu kecepatan, power, kelincahan, koordinasi, waktu reaksi, kecepatan, daya tahan otot, keseimbangan
(Referensi: Bambang Priyono Adi, M.Kes dalam Tes Pengukuran dan Evaluasi, 2008)



BAB II
PEMBAHASAN

A.      TES KEBUGARAN JASMANI BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN
1.      Tes Kelelahan dari Foster
Tes dari Foster ini bertujuan untuk menentukan atau bagaimana keadaan jantung setelah melakukan latihan ringan. Apabila dalam bentuk latihan ringan frekuensi jantung tambah dengansepanjang kondisi anak tersebut tidak baik.
Alat-alat : stopwatch, pensil dan kertas blanko
Pelaksanaan :
Langkah I: Dalam sikap berdiri denyut nadi diambil selama 30 detik. Kalau tidak tenang (nervous) diambil dalam waktu yang lebih lama lagi. Jumlah dalam waktu 1 menit dihitung sebagai dalam table 3.
Langkah 2: lari ditempat selama 30 detik dengan 180 derajat step per menit (30 detik dengan 90 step). Setelah lari terus mengambil sikap berdiri seenaknya; lalu D.P diambil dengan segerasetelah 5 detik atau 15 detik sampai pengetes bisa mengambil lebih baik. Jumlah dalam 1 menit dihitung sebagai B.
Langkah 3: setelah anak coba berdiri dengan enak selama 45 detik D.P diambil lagi dan jumlah per menit catat sebagai C.
Langkah 4: untuk menentukan hasilnya dapat dilihat dalam table 3. 15 adalah nilai maksimal yang mungkin dapat dicapai.


Tabel III
Table Poster Untuk Efisiensi Jasmani

A
D.P sebelum Test
Perbedaan D. P Sebelum dan segera setelah test (B-A)
Perbedaan D.P sebelum dan setelah test (C-A) 45 detik
Nilai
Perbedaan
Nilai
Perbedaan
Nilai
100- kurang  0




101-105       -1




106-110       -2
0 - 20
15


111-115       -3
21 - 30
13
5
-1
116-120       -4
31 - 40
11
6 - 10
-2
121-125       -5
41 - 50
9
11 - 15
-3
126-130       -6
51 - 60
7
16 - 20
-4
131-135       -7
61 - 70
5
21 - 25
-5

(Referensi: Buku Moeslim, Tes Dan Pengukuran Jilid I)

Contoh : Seorang anak dalam sikap berdiri D. P. 76 dilihat pada A dapat nilai 0. Denyut Pulse segera setelah melakukan latihan ringan 106, sehingga perbedaannya adalah 106 - 76 = 30; untuk ini memperoleh nilai 13 (B-A). Setelah berdiri selama 45 detik denyut Pulse menjadio 86, sehingga C-A = 10; dalam tabel memperoleh nilai -2. Jadi tingkat efisiensi jasmaninya adalah 0+13+(-2)=11.

Kriteria penilaian
                                    Table  Klasifikasi Tes Foster

Interval
Kategori
(-3) – (-1)
Kurang
0 -3
Cukup
4 – 7
Baik
8 – 11
Baik sekali
12 -15
Sempurna



Contoh Hasil Tes Foster
Nama                    : Bramuaji Cahya
Umur                    : 21
DN awal               : 74
Step                      : 72
DN 15 dtk                        : 132
DN 45 dtk                        : 90
Perhitungan          : 3
Kriteria                 : Cukup
Analisis                : dalam tes foster testee tergolong cukup, tetapi langkah belum mencapai 90/ detik. Penurunan denyut nadi setelah melakukan latihan dan istirahat, ternyata mendekati DN awal, sehingga dalam perhitungan semua kelompok yang mengikuti tes, testee Bramuaji Cahya dinyatakan berkategori cukup. Dibandingkan dengan perhitungan masing-masing anggota dalam  kelompoknya, testee Bramuaji Cahya paling baik karena anggota yang lain berkategori kurang.



2.      Tes Kelelahan dari Calson
A.       Tujuan :
Tes kurva kelelahan Carlson adalah bertujuan untuk menguji tekanan terberat pada tiap-tiap individu. Carlson merasa tes fisik yang baik banyak persyaratannya untuk menampakkan kondisi fisiknya yang dialaminya.
B.        Cara Pelaksanaan :
Kurva kelelahan secara umum dalam fisiologis, yang mana  kemampuan fisik titik tidak mampu lagi digunakan pada pertengahan latihan. Pelaksanaanya yaitu peserta harus berlari secepat mungkin selama 10 detik dalam tiap sessi (babak) dengan diselingi waktu istirahat selama 10 detik. Peserta melakukan sebanyak 10 sesi (babak) dengan 10 detik tiap sessinya dan mengambil denyut nadi untuk 10 detik kemudian dikalikan 6, dan mencatat denyut nadi:
1.       Sebelum latihan, peserta duduk pada lantai atau tanah.
2.       10 detik setelah latihan.
3.       2 menit setelah latihan
4.       4 menit setelah latihan
5.       6 menit setelah latihan.
Dalam melaksanakan lari, harus diperhatikan menaikkan kaki dan menurunkan kaki secukupnya pada lantai secepat mungkin dia dapat melakukannya selama 10 detik. Subjek hanya menghitung jumlah dari menapaknya kaki kanan pada lantai, dan mencatat tiap-tiap sessi (babak) latihan. Kemudian jumlah seluruhnya dari tiap-tiap sessi dijumlahkan untuk mengetahui hasil akhirnya.
C.        Alat: stop watch, bolpoin, dan buku catatan


D.       Penilaian
Penilaian dari tes ini meliputi jumlah dari kedua nilai yaitu: dari menapaknya kaki kanan pada lantai selama tiap-tiap 10 sessi (babak) latihan, dan denyut nadi yang dinyatakan pada pembahasan diatas. Kelelahan disebabkan menurunnya jumlah tiap-tiap sessi jika peserta telah melakukannya dengan seluruh tenaga. Jika tiap sessi sedikit menunjukkan melemahnya repetisi dari data sessi sebelumnya, ada kesalahan tiap sessi sekarang atau kurang penerapan pada peserta.
(Referensi: Buku Moeslim, Tes Dan Pengukuran Jilid I)

Contoh Hasil Pengukuran Tes Kelelahan dari Calson :
Nama                           : Bramuaji Cahya
      Denyut Nadi Awal`    : 76 per menit
            Setelah Latihan
NO
JUMLAH LANGKAH
DENYUT NADI
1
20
114
2
24
144
3
27
156
4
28
162
5
26
168
6
27
174
7
27
180
8
25
180
9
27
180
10
30
192

Keterangan:     Istirahat           2 menit            20 x 6 = 120
                                                4 menit            19 x 6 = 114
                                                                6 menit            13 x 6 = 78


Grafik Column Hasil Pengukuran Denyut Nadi Setelah Melakukan Tes Carlson

Analisis : pada inning ke 7 masuk ke 8 teste mulai kelelahan. Dapat dilihat dari jumlah langkah yang menurun tetapi denyut nadi masih tetap tinggi. Tetapi pada inning 10 langkah meningkat namun disertai denyut nadi yang sangat tinggi.ada kesalahan karena tiap sesi menunjukkan jumlah repetisi atau langkah yang naik turun. Ini berarti testee tidak melakukan tes dengan seluruh tenaga.

E.        Keuntungan
Diantara keuntungan dari tes kurva kelelahan Carlson adalah:
1.      Tes dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan peralatan yang minimum.
2.      Dengan jumlah yang besar, subjek dapat menguji hanya dalam waktu 10 menit.
3.      Merupakan alat tes yang baik dalam metode evaluasi.
4.      Merupakan sebuah latihan pengkondisian.
5.      Sebagian besar teste dapat dites dalam waktu sepuluh menit.

Indeks Presentase dari kondisi table evaluasi Carlson
  1. Lingkari angka evaluasi yang terdekat dari jumlah kalinya kaki kanan yang menyentuh lantai untuk kesepuluh Inning.
  2. lingkari angka evaluasi yang terdekat dari jumlah kelima penghitungan denyut nadi dalam tabel.
  3. Jumlahkan kedua angka evaluasi dan cari jumlah angka evaluasi tersebut dalam table evaluasi indeks kondisi

Tabel Evaluasi Jumlah Kalinya Kaki Kanan Menyentuh Lantai Sepuluh Inning dan Jumlah Denyut Nadi untuk 5 Penghitungan
Jumlah Langkah 10 Inning
Angka Evaluasi
Jumlah Denyut Nadi  5 kali Pengambilan
Angka Evaluasi
Kuranng dari 140
14
Kurang dari 350
1
140 – 170
13
350 – 375
2
171 – 200
12
376 – 400
3
201 – 230
11
401 – 425
4
231 – 260
10
426 – 450
5
261 – 290
9
451 – 475
6
291 – 320
8
476 – 500
7
321 – 350
7
501 – 525
8
351 – 380
6
526 – 550
9
381 – 410
5
551 – 575
10
411 – 440
4
576 – 600
11
441 – 470
3
601 – 625
12
471 – 500
2
626 – 650
13
Lebih dari 500
1
Lebih dari 650
14





Tabel Evaluasi Indeks Kondisi
Jumlah Evaluasi Dalam Persen (%)
Kategori
Jumlah  Evaluasi Dalam Persen (%)
Kategori
2
3
4
5
97
95
93
91

Baik Sekali
16
69
Perlu Aktivitas
17
67
18
65
19
63
6
7
8
9
10
89
87
85
83
81


Baik
20
61

Pertanyaan! Perlu Diselidiki
21
59
22
57
23
55
24
53
11
12
13
14
79
77
75
73


Cukup
25
51

Jelek! Perlu Pemeriksaan Dokter
26
49
27
47
28
45
15
71
Sedang/Rata-rata



B.       TES KESEMAPTAAN ABRI
Macam, Susunan dan Kegunaan Tes
Tes Kesamaptaan Jasmani ABRI merupakan suatu Battery Tes yang terdiri dari:
a.     Battery Tes ke-I disebut “Tes Samapta A” adalah tes lari 12 menit (aerobic dari Cooper)
b.    Battery Tes ke-II disebut “Tes Samapta B” yang terdiri dari:
1.         Pull Up                             maksimal 1 menit
2.         Squat Jump                      maksimal 1 menit
3.         Push Up                           maksimal 1 menit
4.         Sit Up                               maksimal 1 menit
5.         Shuttle Run                      maksimal 1 menit
c.     Komponen- komponen Kesamaptaan Jasmani yang diukur
1)        Daya Tahan (Endurance)
2)        Kekuatan (Strength)
3)        Kecepatan (Speed)
4)        Kelincahan (Agility)
5)        Koordinasi (Coordination)
d.    Kegunaan tiap-tiap macam kegiatan Tes:
1)        Tes lari 12 menit
Ditujukan untuk mengukur daya tahan (endurence)
a)        Daya tahan otot (muscular endurence)
b)        Daya tahan kerja jantung, peredaran darah, dan pernafasan (Cardio – Respiratory Endurance).
2)        Tes Samapta B
a)        Pull Up : ditempuh untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan.
b)        Squat Jump : ditempuh untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot kaki serta keseimbangan dan koordinasi.
c)        Push Up : ditempuh untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan
d)       Sit Up : ditempuh untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot perut
e)        Shuttle Run : (6X10 meter) ditujukan untuk mengukur kelincahan, koordinasi, kecepatan, ketepatan, dan cara mengubah arah.
3)        Interval waktu
Setelah Tes A dilakukan, Testee diberi waktu istirahat selama 10 sampai15 menit baru boleh melakukan Tes B. interval waktu tiap item pada Tes B adalah 5 sampai 10 menit tiap orang.

Petunjuk Tehnik Tes:
1.         Lari lapangan 12 menit
Alat   : Stop Watch, alat tulis, formulir, peluit, kapur, lintasan lari 400 m
Pelaksanaan : teesti siap dibelakang garis start dengan sikap berdiri. Setelah ada aba-aba dari starter, lari secepat mungkin selama 12 menit. Pada saat 12 menit habis, peluit ditiup dan semua teesti harus berhenti ditempat. Penghitung keliling mendekati teesti dan mencatat jumlah jarak yang ditempuh oleh teesti.
Penilaian      : yang dinilai adalah jarak yang ditempuh oleh teesti.
2.         Pull-Up
Alat   : Stop Watch, palang besi yang diletakkan setinggi 2,5 m.
Pelaksanaan                        : teesti menggantung dengan sikap tapak tangan menghadap kemuka ibu jari dibawah palang. Teesti mengangkat badan keatas sehingga dagu melewati palang dan terletak diatasnya, tidak boleh dengan cara sentakan.
Penilaian      :  yang dinilai adalah banyaknya mengangkat yang syah
3.         Push-Up
Alat   : Stop Watch, alat-alat tulis
Pelaksanaan            : teesti tiarap kedua tangan dibawah bahu, kedua lengan dibengkokkan disamping badan. Kedua kaki lurus kebelakang dengan ujung-ujung jari terletak pada lantai sehingga kaki tegak lurus dengan  tumit. Jarak kaki selebar bahu. Testi meluruskan kedua lengannya sehingga badan terangkat keatas, punggung harus agar terus menerus segaris dengan kepala dan kedua kaki. Turunkan badan dengan membengkokkan lengan sehingga dada menyentuh lantai.
Penilaian      : yang dicatat dan dinilai adalah jumlah gerakan yang benar
4.         Sit-Up
Alat   : Stop Watch, alat-alat tulis
Pelaksanaan                        : teesti berbaring terlentang dengan kedua kaki lurus terbuka ± 40 cm, kedua tangan diletakkan dibelakang kepala dengan jari-jari berpegangan dan yang lain membantu memegangi kaki. Gerakannya yatu teesti bangun dan menyentuhsiku kiri pada lutut kanan, terlentang lagi sperti sikap semula. Bangun dan menyentuhkan siku kanan pada lutut kiri dan seterusnya.
Penilaian      : yang dinilai adlah banyaknya melakukan.
5.         Shuttle-Run
Alat   : lapangan, tonggak atau cone, kapur tanda batas, stop watch, alat tulis, peluit.
Pelaksanaan                        : teesti mengambil sikap start berdiri dibelakang garis start disebelah kanan tonggak atau cone. Setelah dengar bunyi peluit atau aba-aba “Ya” teesti mulai lari menuju tonggak yang didepannya hingga melalui tonggak tersebut, berbalik kembali. Pada tiap melalui tonggak, tonggak pertama selalu berada disebelah kiri dan juga pada waktu meninggalkan tonggak, tonggak kedua selalu berada disebelah kanan. Dengan patokan lari tersebut membentuk angka delapan, jaraknya 10 m. jumlah jarak yang ditempuh adalah 60 m yang berarti melakukan 3 gerakan bolak-balik.
Penilaian      : prestasi diambil dalam waktu detik.
(Referensi: Staf Personil, Pembinaan Manusia Dan Pendidikan Hankam. (1975). Buku Petunjuk Lapangan Dan Buku Petunjuk Tehnik Latihan Binjas Abri Untuk Satuan Lapangan Abri. Cetakan Kedua hal 139-151)




Kriteria penilaian
                                    Table  Klasifikasi Tes Military

Interval
Kategori
386 – 438
Sempurna
333 – 385
Baik sekali
280 – 332
Baik
227 – 279
Cukup
174 – 226
Kurang
Tabel kriteria ini dibuat berdasarkan nilai terendah dan tertinggi peserta tes, karena dalam buku sumber belum mencantumkan criteria penilaian dan hanya mencantumkan nilai T.

Hasil Military Tes
Nama                                       : Bramuaji Cahya
Umur                                       : 21
Lari 12 mnt                              : 2000 (29)
Pull Ups 1 mnt                                    : 1 (14)
Push Ups 1 mnt                       : 23 (58)
Sit Ups 1 mnt                          : 30 (76)
Shuttle Run 6X10 mtr             : 18’16 (73)
T Score total                            : 250                kategori : ( cukup)
Analisis           :  Teste dalam keseluruhan tes dari semua kelompok yang mengikuti tes dinyatakan cukup, namun hasil yang sangat buruk pada salah atu item tes yaitu  pull up. Ini karena daya tahan otot lengan yang rendah yang disebabkan kurangnya latihan pa otot-otot tangan. Jika dibandingkan dengan anggota dalam kelompoknya berkategori kurang.



C.      TKJI
TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA ( TKJI )
Tes kesegaran jasmani Indonesia dibedakan antara putera dan puteri
Untuk putera terdiri dari :
1.   Lari cepat 60 meter,
2.   Gantung angkat tubuh 60 detik,
3.   Baring duduk atau Sit – up 60 detik,
4.   Loncat tegak, dan
5.   Lari 1200 meter.
Untuk puteri terdiri dari :
1.   Lari cepat 60 meter,
2.   Gantung siku tekuk,
3.   Baring duduk atau Sit – Up 60 detik,
4.   Loncat tegak,
5.   Lari 1000 meter.
v  Kegunaan tes
TKJI dipergunakan untuk mengukur dan menentukan tingkat kesegaran jasmani.
v  Alat dan fasilitas
1.         Lintasan lari ( lapangan yang datar dan tidak licin ),
2.         Stopwatch, bendera start, formulir tes, peluit, alat tulis, penghapus
3.         Papan berskala untuk loncat tegak, serbuk kapur
v  Ketentuan pelaksanaan
1.         TKJI ini merupakan satu rangkaian tes, oleh karena itu semua butir tes harus dilaksanakan secara berurutan dan tidak terputus-putus.
2.         Urutan pelaksanaan tes sebagai berikut :
Pertama                : Lari cepat 60 meter
Kedua                  : - Gantung ankat tubuh untuk putera
 - Gantung siku tekuk untuk puteri
Ketiga                  : Baring duduk atau Sit – Up 60 detik
Keempat               : Loncat tegak
Kelima                  : - Lari 1200 meter untuk putera
  -  Lari 1000 meter untuk puteri

PETUNJUK PELAKSANAAN TES
  1. Lari 60 meter
a.       Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan.
b.      Alat dan fasilitas terdiri dari :
1.      Lintasan lurus, datar, rata, tidak licin,
2.      Bendera start, peluit, stop watch, dan alat tulis
c.       Petugas tes : petugas keberangkatan dan pengukur waktu merangkap pencatat hasil
d.      Pelaksanaan
1)      Sikap permulaan : Peserta tes berdiri di belakang garis start.
2)      Gerakan
a)      Pada aba-aba “SIAP” peserta tes mengambil sikap start berdiri, siap untuk lari,
b)      Pada aba-aba “ YA”         peserta tes lari secepat mungkin menuju garis finish, menempuh jarak 60 meter.
3)      Lari masih bisa diulang apabila :
a.       Pelari mencuri start,
b.      Pelari tidak melewati garis finish, dan
c.       Pelari terganggu dengan pelari yang lain.
4)      Pengukuran waktu
Pengukuran waktu dilakukan mulai saat bendera start diangkat sampai pelari tepat melewati garis finish.
e.       Pencatat hasil
a)      Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 60 meter, dalam satuan waktu detik.
b)      Waktu dicatat satu angka di belakang koma.


  1. Tes Gantung Angkat Tubuh Untuk Putera, Dan Tes Gantung Siku Tekuk Untuk Puteri

a.      Tes gantung angkat tubuh 60 detik, untuk putera
1.      Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan otot bahu.
2.      Petugas tes : Pengamat waktu, Penghitung gerakan dan merangkap pencatat hasil
3.      Pelaksanaan
1.      Sikap permulaan
Peserta berdiri dibalakang palang tunggal. Kedua lengan berpegangan poada palang tunggal selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap kearah letak kepala.
2.      Gerakan
1.      Mengangkat tubuh dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau berada diatas palang tunggal, kemudian kembali ke sikap permulaan. Gerakan ini dihitung saku kali.
2.      Selama melakukan gerakan, mulai dari kepala sampai ujung kaki tetap lurus.
3.      Gerakan ini dilakukan secara berulang-ulang, tanpa istirahat sebanyak mungkin selama 60 detik.
3.      Angkatan dianggap gagal dan tidak dihitung apabila :
a)      Pada waktu mengangkat badan, peserta melakukan gerakan mengayun,
b)      Pada waktu mengangkat badan, dagu tidak menyentuh palang tunggal, dan
c)      Pada waktu kembali kesikap permulaan kedua lengan tidak lurus.
4.      Pencatatan hasil
a.    Gerakan yang dihitung adalah angkatan yang dilakukan   dengan sempurna
b.    Gerakan yang dicatat adalah jumlah ( frekuensi ) angkatan yang dapat dilakukan dengan sikap sempurna tanpa istirahat selama 60 detik.
c.    Peserta yang tidak dapat melakukan tes angkat tubuh ini, walaupun telah berusaha diberi nilai Nol ( 0 ).


b.      Tes gantung siku tekuk untuk puteri
1.      Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan otot bahu.
2.      Pelaksanaan : Palang tunggal dipasang dengan ketinggian sedikit diatas kepala peserta
a.       Sikap permulaan : Peserta berdiri dibawah palang tunggal kedua tangan berpegangan pada palang tunggal selebar bahu, pegangan telapak tangan mengahadap kebelakang.
b.      Gerakan : Dengan bantuan tolakan kedua kaki, peserta melompat keatas sampai mencapai sikap bergantung siku tekuk, dagu berada diatas palang tunggal. Sikap tersebut dipertahankan selama mungkin.
  1. Baring Duduk Atau Sit – Up 60 Detik
a.    Tujuan
Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut.
b.    Alat dan fasilitas tediri dari :
1)               Lantai atau lapangan yang datar,
2)               Stopwatch,
3)               Alat tulis,
4)               Alas / tikar / matras jika diperlukan.
c.    Petugas tes terdiri dari : Pengamat waktu, Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil
d.   Pelaksanaan
1.    Sikap permulaan
a)   Berbaring terlentang dilantai atau rumput, kedua lutut ditekuk dengan sudut lebih kurang 90 derajat, kedua tangan jari-jarinya berselang selip diletakkan dibelakan kepala atas.
b)   Petugas / peserta lain memegang atau menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki tidak terangkat.
2.    Gerakan
a)   Gerakan aba-aba “YA” peserta bergerak mengambil sikap duduk sehingga kedua sikunya menyentuh kedua paha kemudian kembali kesikap permulaan,
b)   Gerakan ini dilakukan berulang-ulang secara cepat tanpa istirahat, selam 60 detik.
Catatan :
1)   Gerakan tidak dihitung jika tangan terlepas sehingga jari-jarinya tidak terjalin lagi,
2)   Kedua siku tidak sampai menyentuh paha dan
3)   Mempergunakan sikunya untuk membantu menolak tubuh.
e.    Pencatatan hasil
1)   Hasil yang dihitung dan dicatat adalah jumlah gerakan baring duduk yang dapat dilakukan dengan sempurna selam 60 detik
2)   Peserta yang tidak mampu melakukan tes baring duduk ini, diberi nilai Nol ( 0 )
  1. Loncat Tegak
a.    Tujuan
       Tes ini bertujuan untuk mengukur daya ledak atau tenag eksplosif
b.    Alat dan fasilitas terdiri dari :
1)   Papan berskala Cm, warna gelap, berukuran 30 x 150 cm, dipasang pada dinding yang rata-rata atau tiang.
2)    Jarak antara lantai dan angka Nol ( 0 ) pada skala yaitu 150 cm
3)    Serbuk kapur, penghapus papan tulis, alat tulis
c.    Petugas tes : Pengamat dan pencatat hasil
d.   Pelaksanaan
1.    Sikap permulaan
a)   Terlebih dahulu ujung jaru tangan peserta diolesi dengan serbuk kapur.
b)   Peserta berdiritegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada disamping kiri atau kanannya. Kemudian tangan yang dekat dinding diangkat lurus keatas, telapak tangan ditempelkan pada papan berskalal sehingga meninggalkan bekas raihan jarinya .
2.    Gerakan
a)   Peserta mengambil awalan dengan sikap menekukkan lutut dan kedua lengan diayun kebelakang. Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan ujung jari sehinggga menimbulkan bekas.
b)   Lakukan tes ini sebanyak 3 kali tanpa istirahat atau diselingi oleh peserta yang lain.
e.    Pencatatan hasil
1)    Raihan tegak dicatat,
2)    Ketiga raihan tegak loncat dicatat,
3)    Raihan loncatan tertinggi dikurangi raihan tegak.
  1. Lari 1200 Meter Untuk Putera Dan 1000 Meter Untuk Puteri
a.       Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan jantung, peredaran darah dan pernapasan.
b.      Alat dan fasilitas terdiri dari :
1)       Lintasan lari 1200 meter untuk Putera dan 1000 meteruntuk Putri,
2)       Stopwatch, bendera start, peluit, dan alat tulis
c.       Petugas tes terdiri dari atas :
Petugas keberangkatan, Pengukur waktu, Pencatat hasil
d.      Pelaksanaan
1.      Sikap permulaan : Peserta berdiri dibelakang garis start.
2.      Gerakan
a)        Pada aba-aba “SIAP” peserta mengambil sikap start berdiri, siap untuk lari.
b)       Pada aba-aba “YA” peserta lari menuju garis finish, menempuh jarak 1200 meter untuk putera dan 1000 meter untuk puteri.
Catatan :
1)      Lari diulang bila mana ada pelari yang mencuri start.
2)      Lari diulang bila mana pelari tidak melewati garis finish.
e.    Pencatatan hasil
1)      Pengambilan waktu dilakukan mulai saat bendera diangkat sampai pelari tepat melintasi garis finis.
2)      Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 1200 meter untuk putera dan 1000 meter untuk puteri. Waktu dicatat dalam satuan menit dan detik.

Tabel Nilai
TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA
Untuk putera

Nilai
Lari 60 meter
Gantung angkat tubuh
Baring duduk 60 detik
Loncat tegak
Lari 1200 meter
Nilai
5
S.d – 7,2”
19 Keatas
41 Keatas
73 Keatas
s.d – 3’14”
5
4
7.3” – 8,3”
14 – 18
30 – 40
60 – 72
3’15” – 4’25”
4
3
8,4” – 9,6”
9 – 13
21 – 29
50 – 59
4’26” – 5’12”
3
2
9,7” – 11,0”
5 – 8
10 – 20
39 – 49
5’13” – 6’33”
2
1
11,1” dst
0 - 4
0 – 9
38 dst
6’34” dst
1




Tabel Nilai
TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA
Untuk puteri

Nilai
Lari 60 meter
Gantung siku tekuk
Baring duduk 60 detik
Loncat tegak
Lari 1000 meter
Nilai
5
S.d – 8,4”
41” keatas
28 Keatas
50 Keatas
S.d – 3’53”
5
4
8,5” – 9,8”
22” – 40”
20 – 28
39 – 49
3’53” – 4’56”
4
3
9,9” – 11.4”
10” – 21”
10 – 19
31 – 38
4’57” – 5’58”
3
2
11,5” – 13,4”
3” – 9”
3 – 9
23 – 30
5’59” – 7’23”
2
1
13,5” dst
0” – 2”
0 – 2
22 dst
7’24” dst
1


  1. Table norma
NORMA TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA
Untuk Putera dan puteri

No
Jumlah nilai
Klasifikasi
1.
22 – 25
Baik sekali          ( BS )
2.
18 – 21
Baik                    ( B )
3.
14 – 17
Sedang                ( S )
4.
10 – 13
Kurang                ( K )
5.
5 – 9
Kurang sekali        ( KS )



Contoh Hasil Tes TKJI
Nama        : Bramuaji Cahya
Umur        : 21
·           Lari 60 meter                                    : 09’52” (3)
·           Gantung Angkat Tubuh        : 1 (1)
·           Sit Up                                   : 22 (3)
·           Lari 1200 meter                    : 7’39 (1)
·           Loncat tegak                         : (2)
-            Awalan              : 227 cm
-            Loncatan I         : 267 cm
-            Lomcatan II       : 265 cm
-            Loncatan III      : 268 cm
·           Nilai total : 10
Kategori               : Kurang
Analisis: Teste Bramuaji Cahya secara keseluruhan dari semua kelompok yang mengikuti tes termasuk kurang. Karena pencapaian nilai pada tes gantung angkat tubuh dan lari 1200 meter sangat rendah. Hasil ini disebabkan teste saat mengikuti tes TKJI  baru senbuh dari sakit. Selain itu juga daya tahan otot lengannya memang kurang bagus. Jika dibandingkan dengan anggota dalam kelompoknya teste juga berkategori kurang.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil tes yang dilakukan saat mengikuti kuliah Tes Pengukuran dan Evaluasi, banyak sekali nahasiswa yang nilai tesnya apabila dikonversikan terhadap norma yang ada ini kurang bagus. Ini bisa disebabkan oleh banyak factor baik dari dalam diri individu sendiri ataupun dari luar, missalnya ketidak seriusan saat melakukan tes, tingkat kebugaran jasmani rendah, pengetahuan tentang tes sangat minim.
B.     Saran
Saran yang bisa penyusun sampaikan adalah alat atau sarana dijaga kulitasnya serta lebih memfasilitasi mahasiswa dalam mencari sumber jika kesulitan mencari di perpus.










BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. Moeslim. Tes dan Pengukuran Jilid I.

Iskandar  Z. Adisapoetra. (1999). Panduan Teknis Tes & Latihan Kesegaran Jasmani Untuk Anak Sekolah. Jakarta

Staf Personil, Pembinaan Manusia Dan Pendidikan Hankam. (1975). Buku Petunjuk Lapangan Dan Buku Petunjuk Tehnik Latihan Binjas Abri Untuk Satuan Lapangan Abri. Cetakan Kedua..Jakarta: Departemen Pertahanan Keamanan.

Tim Lab Fisiologi. (2006) Petunjuk Praktikum Fisiologi Manusia. Yogyakarta. Laboratorium Fisiologi FIK UNY

The Nelson Hand Reaction Test: Buku kesehatan, tes pengukuran dan evaluasi halaman 88.

The Nelson Foot Reaction Test: Buku kesehatan, tes pengukuran dan evaluasi halaman 88.

www.google.com/bompa book  Johnson B.L. & Nelson J.K. Practical Measurements for Evaluation in PE 4th Ed. 1986



Tidak ada komentar:

Posting Komentar